Saya dan sebuah kehilangan.



Ini bukanlah kesilapan. Tetapi sebuah pengajaran. Kerana jatuh cinta itu tidak pernah salah. Yang salah itu adalah cara kita menjalani cinta itu sendiri. Banyak hal yang membingungkan saya. Bagaimana seseorang itu bisa hadir dan membawa sepenuh pengharapan untuk kembali hidup, dan pada akhirnya dia juga yang menghancurkan pengharapan itu sendiri.

Tidak, sekali lagi cinta tidak salah. Saya mencintai-mu dengan tepat. Tetapi kamu lebih mencintai dia dengan penuh waspada. Lapan bulan Tuhan meletakkan saya dalam satu kondisi yang hampir saya hancur diri. Menghadapi dua kehancuran pada waktu yang begitu singkat. Hampir saya gila menangis separuh mati. Sehingga saya menjadi perempuan yang patah hati dan kasihan. Saya berteriak, lalu menangis dan tertidur. Lantas esok hari saya ulang lagi. Saya ulang lagi dan ulang sehingga saya lupa bagaimana untuk mencintai diri saya sendiri.

Saya hilang punca pengharapan, saya hilang pekerjaan, saya hilang dari teman-teman. Jatuh. Sebegini dahsyatnya kesakitan yang harus saya tanggung. Dan pada tiap-tiap malam saya tidak putus bertanya pada Tuhan; kenapa saya? Tidak cukup kah yang saya rasakan bertahun lamanya sebelum ini? Kenapa mudah bagi orang lain tetapi tidak saya? Kerana di pengadilan hari ini, saya yang terjatuh hukum supaya tidak terlihat celanya orang lain.

Berjam-jam saya berbaring merenung siling. Kadang berharap ia jatuh lalu menghancurkan kepala saya dan meranapkan jantung saya. Saya jadi hanyut dalam pikiran sendiri sambil persoalkan nasib saya yang tidak putus-putus ditimpa malang. Hingga pikiran saya terjaga dengan satu laungan azan. Hari sudah subuh. Dan tiba-tiba segala yang saya pikir dan rasakan tadi hilang dan berubah total.


Saya tidak hilang punca. Saya tidak hilang diri saya sendiri. Yang saya telah lama kehilangan adalah; Tuhan.

Berantakan!


Kata orang-orang
Aku begitu-nya aku

Hidup
Mencari ruang ruang
Menjadi buang buang
Menaruh peluang peluang

Cinta
Cinta datang memeluk-ku
Lalu pergi merenggut setiap punya-ku

Nasib
Nasib-ku bukan lah terlalu malang
Tetapi kudrat-ku telah habis dijuang

Aku tak mahu lagi
Separuh nyawa-ku berbaki begini

Ini sudah penghabisan
Berantakan!

Ketika Saya Jatuh Cinta


Waktu meninggalkan saya dengan pesan
   "Ketika matari hilang warna
   "Ketika langit jadi gelita
   "Kau akan merasakan hujan dan kesedihan"

Lalu malam mendekap saya
Dan membiarkan perasaan saya menjadi ribut dalam awan

Katanya lagi,
Ketika saya jatuh cinta
Ketika itu juga akan saya hilang segalanya
Bahkan -- diri saya sendiri

Lantas dari itu
Saya berjanji

Untuk tidak akan pernah jatuh cinta lagi